Sabtu, 14 November 2009

Merokok dan Kentut

Apakah bedanya merokok dan kentut ?
Jelas beda, setidaknya kentut adalah suatu hal yang alami dan tidak terelakkan selama manusia atau binatang itu masih hidup, sedangkan merokok adalah aktivitas tambahan yang dapat dilakukan atau tidak tergantung pilihan.

Nah, jika memang berbeda mengapa judul artikel ini mengaitkan kedua hal itu ? Karena selain perbedaan, ada sedikit persamaan juga antara kentut dan merokok ini. Salah satunya adalah orang yang merokok dan kentut biasanya merasakan suatu kelegaan, sedangkan orang-orang yang ada di sekitarnya di lain pihak justru merasakan kesesakan karena harus menahan napas. Kedua hal ini juga termasuk aktivitas yang menimbulkan "polusi udara"...

Yang saya herankan, aktivitas merokok dan kentut ini walau sama-sama menyebalkan orang lain, tetapi seolah mendapat perilaku yang berbeda. Seseorang yang ketahuan kentut di depan umum biasanya merasa sangat malu, mereka cenderung menutup-nutupi aktivitas ini dengan berbagai cara. Bahkan secara etis, kita merasa kalau ingin kentut jangan di depan umum, pergilah ke toilet atau tempat terbuka di mana tidak ada satu makhluk pun yang akan terganggu oleh siraman gas anda.

Sedangkan seorang perokok dengan bangga melakukan aktivitas ini di depan umum tanpa rasa malu, jangankan malu, bahkan jika ditegur pun, ia akan melotot kepada pihak yang menegurnya dan bahkan dengan sinis tetap meneruskan aktivitasnya. Seperti yang dialami seorang ibu yang naik angkot, saat seorang bapak naik ke angkot sambil membawa rokok si ibu meminta bapak tersebut mematikan rokoknya. Dan jawaban si bapak adalah, kalau tidak mau kena asap rokok, naik taxi saja.

Padahal merokok ini aktivitas yang benar-benar merampas hak hidup dan hak atas udara bersih yang dimiliki oleh manusia lain. Merokok ini lebih merugikan dibandingkan kentut, setidaknya kentut tidak mengancam jiwa manusia lain bukan ? Sedangkan perokok pasif jelas lebih kecil kans hidupnya.

Maka bagi saya merokok bukan cuma sekedar aktivitas seperti makan tahu campur. Merokok bagi saya menunjukkan kekerdilan jiwa seseorang. Seorang perokok yang tidak mampu mengendalikan nafsunya tanpa memandang kepentingan orang lain jelas juga sulit dianggap sebagai manusia yang bertanggung jawab. Bagaimana saya dapat mempercayai orang tersebut, kalau untuk mengendalikan nafsunya saja ia tidak mampu, untuk nafsu tersebut ia dapat dengan mudah mengabaikan hak hidup orang lain. (Sempat ada wacana dari beberapa rekan, agar para perokok ini dapat meneruskan hobinya tanpa membunuh orang lain, sebaiknya mereka memakai helm atau kantong agar asap rokok mereka tidak keluar dan masuk ke paru-paru orang lain)

Kesimpulan : Jika saat ini anda adalah perokok dan anda merasa anda bukan orang yang tidak bertanggung jawab dan seenaknya sendiri, saatnya anda tunjukkan hal itu sekarang... Jika anda masih cuek, maka perilaku anda itu adalah semacam pembenaran bagi kesimpulan yang sudah saya ambil.

Tidak ada komentar: