Minggu, 29 Maret 2009

Define: narcism

Quote dari http://wordnetweb.princeton.edu/perl/webwn?s=narcism :
narcism, self-love: an exceptional interest in and admiration for yourself; "self-love that shut out everyone else"

Well, definisi yang pas dan nyambung. Perhatikan terutama di bagian "shut out everyone else...", well, that explain...

2 hari terakhir ini ada lebih dari 1 rekan yang mengomel tentang kelanjutan tragedi Situ Gintung. Bagaimana orang-orang banyak yang datang untuk mengambil gambar dan video tanpa berupaya menolong dan memberikan bantuan apa pun. Saat mendengar ini, saya merasa kok merasa dejavu yah ? Rasanya pernah omelan ini terlontarkan juga entah oleh siapa, kapan dan dalam peristiwa apa ? Ah, tentu saja, cetusan itu terlontar saat melihat foto-foto baksos mengunjungi korban tsunami jogja. Tampak para peserta baksos dengan ekspresi muka bangga dan sumringah berfoto di atas puing2 reruntuhan, gayanya mirip seperti jika kita pergi ke mesir dan berfoto di depan patung sphinx.

Sebenarnya ada apa dengan society kita ini ? Sudah lama tersebutkan bahwa jaman ini adalah jaman narsis, itulah sebabnya kamera digital laku berat, bahkan yang jenis SLR jauuuhhh lebih laku dari model pocket. Pada jaman ini istilah mengekspresikan diri lebih sering terdengar. Istilah mengekspresikan diri tampaknya diartikan lebih jauh bukan hanya berekspresi secara diam-diam, bukan hanya talk, tetapi lebih mengarah ke shout, ekspresi itu harus dilihat oleh sebanyak mungkin orang. Maka aplikasi jenis flickr, blogger, twitter, termasuk juga facebook, jadi laris manis (secara tidak langsung penulis mengakui kenarsisannya). Untuk mencapai tujuan dilihat oleh banyak orang ini, orang-orang rela berkorban harta, pikiran, tenaga, bahkan mungkin keluarga ?

Selama ini saya tidak merasa narsisme ini sesuatu yang mengganggu. Mencibir, mungkin kadang-kadang, tetapi tidak pernah merasa gemas, sampai hari ini. Mungkin karena dulu saya tidak menyadari arti kata narsis yang sesungguhnya. Baru hari ini saya menemukan kembali bahwa narsis ini bukan cuma meninggikan dan mempamerkan diri, tetapi juga shut out everyone else. Semua orang lain tidak terlalu penting karena admirasi berlebihan pada diri sendiri. Betapa mengerikan dan suram bukan masa depan semangat kemanusiaan? Dan lucunya tidak banyak orang narsis yang menyadari kenarsisannya, bukankah hal ini lebih berbahaya ?

Saya kembali mengingat sebuah percakapan tentang memberi sedekah di lampu merah. Apakah memberi sedekah sebenarnya juga suatu bentuk narsisme ? Ah bukan dong, dengan memberi sedekah saya kan tidak memamerkan apa pun, lagipula saya sudah membantu orang lain. Tolong tanya pak, apakah anda tidak merasa diri anda baik hati saat memberikan sedekah ? Dan permisi tanya pak, bantuan senilai berapakah yang anda berikan saat memberi sedekah ? Cukup untuk membuka usaha sehingga ia tidak perlu meminta-minta lagi ? Cukup untuk bertahan beberapa bulan sehingga ia dapat memakai waktunya untuk mencari pekerjaan ? Oh atau cukup untuk 1 minggu saja, siapa tahu dalam seminggu ia dapat memperoleh pekerjaan ? Oh atau untuk 1 hari ? Loh, masih tidak cukup ? Cukup untuk 1 kali makan sekeluarga ? Tidak cukup ? Oh, mungkin hanya cukup untuk 1 kali makan untuk 1 orang ? Tidak juga ? Berapa sih ? 1000 perak ? Oh, ok, dan dengan 1000 perak itu anda mengumbar semangat narsisme anda dengan membeli perasaan bahwa "aku orang baik".

Minggu, 04 Januari 2009

Gelap itu indah ?

Suatu kali saya mendengar seorang pendeta [1] menyatakan bahwa manusia semakin lama semakin menyukai kegelapan. Benarkah ? Ya, benar. Siapa yang bisa menyangkal bahwa suasana malam hari sering tampak sangat indah. Siapa yang bisa menyangkal keindahan pemandangan saat sunset. Dan saya sendiri sangat senang dan menikmati jika ada yang membuat saya harus berputar-putar kota pada malam hari, saya sangat menyukai pemandangan dan suasana kota saat malam hari.

Selain itu banyak film atau cerita yang indah adalah film atau cerita yang bertema gelap. Film atau cerita itu indah karena kegelapannya. Jika film atau cerita itu tidak dibuat gelap mungkin hasilnya tidak seindah itu. Mungkin hasilnya hanya lumayan saja (seperti hasil karya seorang penulis di film Stranger Than Fiction yang akhirnya mendapat komentar hanya “lumayan” saat dia mengubah endingnya yang biasanya gelap dan tragis menjadi penuh harapan).

Yang terakhir, suatu ketika saya mendengar ada sebuah resto yang dibuat khusus dengan suasana yang gelap-lap. Filosofinya adalah bahwa jika sebuah indra dimatikan, indra lain akan menjadi lebih peka, jadi jika penglihatan dihilangkan, maka indra perasa dan pengecap akan lebih peka, sehingga rasa makanan akan jauh lebih lezat, teorinya begitu. Padahal kepekaan indra seorang buta apakah bisa diperoleh dalam waktu sejam saja ya ? Bukannya dia menjadi peka setelah beberapa lama menjadi orang buta ? Yah, ini teori saya yang tidak percaya dengan teori kepekaan pengecap yang tercipta dalam beberapa menit itu. Toh indra pengecap kita terbukti mudah ditipu dalam gelap, seorang mahasiswa dalam masa orientasi dengan mata ditutup akan merasa jijik dan muak saat ia makan mie jika ia ditipu bahwa yang ia makan adalah cacing, jadi peka apanya ? Tampaknya indra perasa amat dipengaruhi oleh indra penglihatan dan penciuman, itulah sebabnya makanan selain lezat sebaiknya juga tampak menggiurkan dan baunya sedap pula. Walau demikian, trend restoran gelap ini tampaknya juga mendukung teori bahwa manusia sekarang semakin cinta gelap.

Tetapi jika kita memperhatikan lebih jauh, sebenarnya keindahan dari suatu kegelapan terletak bukan pada kegelapan itu sendiri. Saat saya berkeliling kota di waktu malam, yang membuat kota tampak indah adalah temaram lampu jalanan. Kerlingan lampu-lampu yang cahayanya berkelap-kelip dapat membuat malam hari tampak menakjubkan. Jika semua lampu itu dimatikan, tetapi masih ada bulan yang bercahaya redup, mungkin keindahan alam masih tampak, tetapi jika bahkan bulan pun tiada, maka malam hari tidak akan indah lagi. Sebuah film atau cerita yang gelap akan tampak indah dan menarik untuk dikenang jika realitas hidup yang kita jalani sekarang tidak segelap itu. Jika hidup kita dulu segelap cerita itu, tetapi sekarang kita sudah mengalami terang maka kita masih bisa menikmati cerita itu. Jika hidup kita sekarang pun masih gelap, tetapi film tersebut berakhir dengan terang, maka kita memiliki harapan bahwa hidup kita pun akan menjadi terang. Tetapi jika hidup kita gelap, dan cerita tersebut jika berakhir dengan gelap, akankah kita masih menikmati cerita tersebut yang bukannya membawa harapan tetapi menyodorkan keputusasaan? Restoran yang menawarkan kegelapan sebenarnya bukan menawarkan kegelapan tetapi menawarkan terang yang lebih dari indra perasa (setidaknya secara konsep).

Jadi mungkin sebenarnya tanpa disadari manusia menyukai kegelapan karena dalam kegelapan itu terang yang sekecil apa pun, jadi tampak lebih nyata. Saat manusia menyukai “gelap” di satu sisi, di lain sisi sebenarnya dia walau tak mau mengakui, memuja “terang”. Yang tidak disadari oleh manusia, sebenarnya saat dirinya terbius dengan keindahan terang di dalam kegelapan itu, ia melupakan fakta bahwa banyaknya kegelapan yang menyelubunginya menyimpan bahaya kejahatan yang lebih besar. Saat saya berkeliling di waktu malam, tingkat keamanan lebih rendah daripada di siang hari, kemungkinan saya mengalami kecelakaan atau menjadi korban kejahatan atau tersesat juga lebih tinggi. Saat saya menonton film yang gelap, kemungkinan saya menjadi depresi juga lebih tinggi. Dan saat saya berada di resto yang gelap, kemungkinan saya mengalami kecelakaan (tertusuk garpu atau pisau, atau terantuk kaki meja atau terjatuh) atau menjadi korban kejahatan (seperti yang dilukiskan dalam salah satu episode CSI New York) juga lebih tinggi.

Terang yang ada di tengah gelap memang indah, tetapi by nature gelap adalah tempat munculnya segala sisi buruk manusia.


Ket :
[1] Khotbah Natal GRII di WTC oleh Pdt. Sutjipto Subeno

Sabtu, 03 Januari 2009

Value

Alkisah tahun 2009 ini adalah tahun yang suram. Resesi melanda semua negara, termasuk Indonesia walau belum kentara di awal tahun ini. Karena resesi itu daya beli masyarakat akan semakin turun. Dengan adanya resesi ini, kemungkinan semua manusia mau tak mau terpaksa harus mengencangkan ikat pinggang.

Terpikir, bagaimana nasib produk2 yang selama ini menjual diri jauh di atas nilai intrinsiknya. Apakah mereka yang akan mengalami imbas paling hebat ? Akankah manusia yang biasanya rela membayar lebih (jauhhhh lebihnya) untuk membeli image, tiba-tiba tangannya terikat dan harus mengganti pilihannya dengan produk yang harganya sesuai dengan valuenya ?

Kalau melihat betapa nilai sebuah benda, sebuah karya seni, atau sebuah jasa, belakangan ini dikacaukan dengan begitu kacaunya, yang bernilai tinggi dihargai rendah, yang bernilai rendah dihargai tinggi, maka entahlah, apakah resesi ekonomi ini menjadi sebuah kutuk atau sebenarnya suatu berkah ?

Senin, 01 Desember 2008

Pendidikan = investasi

Judul di atas jika dibaca, banyak orang akan mafhum dan legawa. Padahal jika keberhasilan sebuah investasi selalu dikaitkan dengan keberhasilan finansial, maka sebenarnya saya tidak yakin bahwa pendidikan adalah suatu investasi. Berapa banyak konglomerat yang kaya karena ia berpendidikan ? Berapa banyak orang kaya yang dihasilkan dari dunia pendidikan ? Adakah 1 persen wisudawan akhirnya mampu jadi "orang" (baca : orang kaya)?

Belakangan ini dunia pendidikan semakin ditarik ke area bisnis. Mendirikan sekolah adalah bisnis dan investasi. Sekolah-sekolah internasional berjamuran, tampaknya dengan pertimbangan bisnis (semoga saya salah). Jaman dulu sekolah dan universitas yang baik speaks for itself, tidak perlu menyewa PR dan marketing profesional, tetapi jaman sekarang ini sekolah biasa bisa digandrungi karena kemampuan PR yang hebat dan sekolah OK bisa terpuruk karena PR yang jelek. Di satu sisi para remaja ingin berhura-hura sambil tetap memperoleh prestige sebagai orang sekolahan (mau keren tapi tidak mau capek bikin tugas). Di sisi lain para PR menawarkan konsep sekolah yang fun, yang menawarkan konsep happy dari sejak sekolah sampai lulusnya pun happy ending karena kalau lulus nanti kamu bisa jadi bos untuk dirimu sendiri, tidak kerja buat orang lain (ntar kalau dimarahin bos, ga fun dong).

Dan gong dari gejala ini adalah saat pendidikan dianggap berhasil jika banyak fulus tercurah bagi sarjana ini. Betapa lucunya, ternyata pendidikan dinilai keberhasilannya dari apa yang dia peroleh. Saat dia bersekolah dia mengambil dan mengambil tanpa pernah memberi, dan saat dia lulus pun ternyata keberhasilannya diukur dari seberapa banyak dia dapat mengambil. Tidak ada kesempatan sama sekali untuk dinilai dari apa yang diberikan keluar. Nilai altruis benar-benar tidak keren dan tidak penting. Nilai egoistis adalah nilai terpenting. Tidak heran manusia yang katanya berpendidikan pun bisa bersikap layaknya anjing yang berebut sepotong daging. Karena manusia sudah dinilai jauhhhh lebih rendah dari natur mulianya.

Sekali lagi, semoga saya salah...

you gave no effort for your salvation

Setiap tahun kita merayakan jumat agung dan paskah. Terkadang perayaan yang begitu rutin membuat kita hampir tidak merasakan greget perayaan itu lagi. Kesibukan mempersiapkan Paskah membuat emosi kita tercurah untuk persiapan itu, dan ketika tiba saatnya kita mengenang pengorbanan Kristus, emosi itu sudah habis, tidak ada rasa lagi.

Tahun ini tampaknya hal itu akan terjadi lagi. Rasa tidak ada rasa itu sangat mengganggu. Mengapa kita begitu dingin saat mengenang Dia ? Mengapa kita begitu terbiasa merayakannya sehingga seolah kita merasa bahwa semua anugrah yang kita terima memang selayaknya kita terima ?

Padahal manusia sejak lahir sudah berdosa, sudah tidak mungkin dekat-dekat Allah lagi. Mau berusaha sampai mati pun kita tidak mungkin bisa mendekati Allah. Kita cuma punya satu jalur, bukan dua, tidak ada jalur alternatif, jalur kita cuma satu, jalan tol menuju kematian. Kalau bukan Allah yang berinisiatif mendekati kita, maka tidak mungkin kita bisa menghampiri Dia.

Bukan cuma mendekati, Dia juga mengusahakan supaya kita layak didekati. Dia mau mati buat menggantikan kita. Bukan cuma mati fisik, tapi Dia menanggung murka Allah yang maha dahsyat, Dia ditinggalkan Allah Bapa di tengah kesengsaraanNya. Gara-gara kita, kesatuan Allah Tritunggal pernah diceraikan.

Memang terhukum mati tidak mungkin dapat menggantikan vonis hukuman mati dari terhukum lain. Kalau dia menanggung hukuman mati orang lain, nah, siapa dong yang menggantikan vonis hukuman mati -nya sendiri ? Demikian juga semua manusia yang sudah divonis mati tidak mungkin dapat menebus baik dirinya sendiri atau manusia lainnya. Hanya dia yang bersih yang dapat menggantikan menanggung vonis tersebut untuk manusia. Dan tidak ada satu manusiapun yang bersih kecuali Tuhan sendiri yang berinkarnasi menjadi manusia.

Pengorbanan itu murni dilakukan karena kasih. Kita kejatuhan kasih, bukan karena kita manis, baik, hebat atau unggul. Tidak ada sedikitpun usaha kita yang membuat kita layak mendapatkan kasih sebesar itu. Kita hanya disayangi dengan kasih yang dalam.

Sedih jika membayangkan kasih sedalam itu kita sambut dengan dingin. Seberapa parah hati kita sudah dibekukan oleh rutinitas ?

Love Story

Love story tidak akan pernah tidak laku dijual. Manusia selalu suka mendengar atau membaca kisah cinta. Para wanita terharu, dan para pria memasang kuping walau pura-pura tidak peduli. Tapi love story biasanya tidak diabaikan.

Tetapi ada sebuah buku yang full berisi love story, tetapi karena begitu tebalnya dan begitu panjang ceritanya sampai-sampai tidak disadari bahwa sebenarnya isi buku itu adalah love story. Ada 2 tokoh utama, yang mencintai dan yang dicintai sampai mati.

Buku itu menggambarkan perjalanan panjang cinta yang berkali-kali ditolak, berkali-kali dipermainkan, berkali-kali dikhianati, tetapi sang pencinta tetap teguh tidak mau mundur tetap mencintai. Buku itu bercerita tentang bagaimana sang pencinta mau berkorban hingga tetes darah penghabisan walaupun dia dibenci oleh pihak yang dicintai. Buku itu bercerita tentang bagaimana dia tetap sabar menunggu cinta itu bersambut. Buku itu bercerita bagaimana cinta sejati tidak memaksa tetapi berkorban. Bukan berkorban tanpa tujuan, bukan kisah cinta murahan dimana sang pencinta mati dengan sia-sia atas nama cinta saja, tetapi dia berkorban untuk satu tujuan demi kebahagiaan dan kebebasan ia yang dicintai. Buku itu melukiskan bagaimana cinta sejati tidak akan pernah habis, ia tidak menyerah, bagaimana cinta sejati bukan berarti tidak ada kemarahan, bagaimana cinta sejati tercurah dalam berbagai emosi, dan bagaimana cinta sejati setia menunggu sampai akhir walau ia tidak dicintai.

Buku itu adalah Alkitab.

Light and darkness

Kita sering mendengar idiom pertempuran terang melawan gelap. Sebenarnya pertempuran terang dan gelap bukanlah pertempuran sejati dan tidak akan pernah berlangsung adil. Karena begitu terang muncul, maka kegelapan total akan musnah.

Atau sebenarnya malah tidak pernah ada pertarungan antara terang dan gelap, karena mereka sebenarnya tidak pernah bertemu. Atau malah sebenarnya tidak ada objek yang bernama kegelapan. Karena kegelapan hanya dapat terwujud jika segala jenis terang ditiadakan. Maka optionnya hanya ada terang atau tidak ada terang. Terang sekecil apa pun jika dimunculkan maka tidak akan ada lagi gelap, karena gelap = tidak ada terang.

Fakta ini cukup menghibur sekaligus menekan kita. Jika demikian berarti tidak ada yang bernama sisi gelap dalam diri kita masing-masing. Sisi gelap hanya muncul kalau kita mengusir semua terang yang ada. Kalau kita mengijinkan sedikit saja ada terang dalam diri kita, maka kegelapan itu akan lenyap. Kita sebenarnya tahu kan di mana kita dapat menemukan terang yang sejati. Pertanyaannya, sebenarnya apakah kita sebenarnya terkadang menikmati kegelapan itu ? Sehingga kita menghalau semua terang yang ditawarkan ?

diilhami oleh khotbah Pdt. Sutjipto Subeno, GRII Andhika